FAKFAK, PAPUA BARAT bnewsmedia.id — Peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua kembali menjadi perhatian pada 2026. Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dijadwalkan menjadi salah satu pusat peringatan momentum tersebut pada 8 Agustus 2026.
Peringatan ini merujuk pada tradisi sejarah lokal yang menyebut bahwa Islam telah hadir di Tanah Papua sejak 8 Agustus 1360 Masehi, ketika seorang mubalig bernama Abdul Gafar yang disebut berasal dari Aceh tiba di wilayah Fakfak.
Namun, benarkah Islam telah masuk ke Papua tepat 666 tahun lalu?
ADVERTISEMENT
Punya Ide
Aplikasi?
Wujudkan ide digital Anda bersama tim developer profesional.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Klaim 1360 Masehi Berasal dari Tradisi Sejarah Lokal
Menurut riwayat yang berkembang di Fakfak, Abdul Gafar datang ke wilayah Rumbati dan melakukan dakwah selama beberapa tahun. Tradisi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penetapan peringatan masuknya Islam ke Tanah Papua.
Kementerian Agama Papua Barat pada peringatan 665 tahun pada 2025 juga mencatat tradisi tersebut. Dalam keterangan resmi Kemenag, kedatangan Islam disebut bermula pada 8 Agustus 1360 Masehi, melalui mubalig Abdul Gafar yang kemudian menyebarkan Islam di wilayah Fakfak.
Riwayat yang sama juga disebut dalam berbagai kajian mengenai sejarah Islam di Papua. Salah satu kajian menyebut kisah Abdul Gafar pada 1360–1374 bersumber dari tradisi lisan yang dituturkan keturunan Raja Rumbati.
Artinya, klaim 1360 bukan cerita yang muncul baru-baru ini, melainkan telah lama hidup dalam ingatan sejarah masyarakat Fakfak.

Tetapi Sejarawan Belum Memiliki Satu Kesimpulan
Persoalannya, sejarah awal Islamisasi Papua tidak memiliki satu versi yang disepakati semua ahli.
Kompas mencatat sedikitnya beberapa versi mengenai kedatangan Islam di Papua. Selain versi Aceh yang menempatkan Abdul Gafar pada 1360–1374, terdapat versi Arab, Banda, Bacan, serta Ternate-Tidore.
Versi lain bahkan menempatkan perkembangan Islam di Papua pada periode yang lebih muda. Sejumlah kajian menyebut bahwa sumber sejarah yang lebih dapat diverifikasi menunjukkan keberadaan dan perkembangan Islam di wilayah Fakfak dan Raja Ampat terutama pada abad ke-16 dan ke-17.
Penelitian arkeologi juga menunjukkan kuatnya hubungan Papua dengan jaringan perdagangan kawasan Maluku dan Banda sejak masa sejarah. Wilayah Onim di Papua telah tercatat dalam konteks perdagangan sejak abad ke-14, sementara komoditas Papua terhubung dengan jalur perdagangan melalui Laut Seram dan Banda.
Karena itu, sangat mungkin kontak antara masyarakat Papua dengan pedagang dan komunitas Muslim terjadi melalui jaringan perdagangan jauh sebelum Islam berkembang menjadi institusi politik dan keagamaan yang kuat.
Jadi, Apakah 666 Tahun Itu Fakta?
Jawabannya perlu dibedakan.
666 tahun sebagai usia peringatan berdasarkan tradisi Fakfak: benar.
Pemerintah dan masyarakat di Papua Barat memang memperingati momentum tersebut. RRI pada Mei 2026 melaporkan persiapan peringatan ke-666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua yang dijadwalkan pada 8 Agustus 2026 di Fakfak.
Tetapi:
“Islam secara pasti pertama kali masuk Papua pada 8 Agustus 1360” belum dapat dinyatakan sebagai fakta sejarah yang telah memperoleh konsensus akademik.
Sebab, sumber mengenai kedatangan Abdul Gafar pada 1360 terutama berasal dari tradisi lisan dan riwayat lokal, sementara penelitian sejarah mengenai awal Islamisasi di kawasan Papua masih menghadapi keterbatasan sumber primer.
Bahkan kajian resmi mengenai sejarah Islam di kawasan Maluku—wilayah yang mempunyai hubungan sangat erat dengan proses Islamisasi Papua—menunjukkan bahwa penentuan kapan tepatnya Islam pertama kali hadir juga masih menjadi persoalan akademis karena keterbatasan dokumen perjalanan, arsip, dan sumber primer.
Islam dan Papua: Sejarah yang Lebih Panjang dari Sekadar Angka
Terlepas dari perdebatan mengenai angka 1360, satu hal sulit dibantah: Islam mempunyai sejarah panjang di wilayah Papua bagian barat.
Hubungan Papua dengan pusat-pusat kekuasaan Islam di Maluku, terutama Ternate, Tidore dan Bacan, turut membentuk jaringan perdagangan, politik dan kebudayaan di kawasan tersebut.
Penelitian arkeologi BRIN bahkan menunjukkan bahwa Kesultanan Tidore memiliki pengaruh luas hingga wilayah Papua dan menjadikan Papua sebagai salah satu kawasan periferi kekuasaannya.
Di Fakfak sendiri, sejarah Islam kemudian berkembang berdampingan dengan adat dan agama lain. Tradisi “Satu Tungku Tiga Batu” sering digunakan untuk menggambarkan hubungan antara adat, agama dan pemerintah dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, peringatan 666 tahun tidak semata-mata penting karena angka usianya. Momentum tersebut juga membuka ruang untuk mengangkat kembali sejarah perdagangan, kerajaan lokal, hubungan Papua dengan Maluku, serta perjalanan masyarakat Muslim Papua dari masa ke masa.
Sejarah Perlu Dirayakan, tetapi Juga Perlu Diteliti
Peringatan 666 tahun Islam di Tanah Papua dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat penelitian sejarah.
Bukan untuk mempertentangkan versi sejarah, melainkan untuk mencari titik temu antara tradisi lisan masyarakat, manuskrip, catatan kerajaan, arsip kolonial, data arkeologi, antropologi dan penelitian lintas disiplin.
Dengan pendekatan tersebut, kisah Abdul Gafar dan tahun 1360 dapat ditempatkan secara proporsional: sebagai bagian penting dari tradisi sejarah masyarakat Fakfak yang patut dihormati, sekaligus sebagai klaim sejarah yang masih membutuhkan penguatan bukti primer dan penelitian akademis.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang kapan tepatnya Islam pertama kali menginjakkan kaki di Papua mungkin masih membutuhkan penelitian lebih panjang.
Namun sejarah kehidupan umat Islam di Tanah Papua jelas bukan cerita baru.
Ia telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Papua, perdagangan Nusantara, jaringan kerajaan Maluku, adat dan kebudayaan lokal yang terus hidup hingga hari ini.
666 tahun menjadi momentum untuk mengingat sejarah. Tetapi penelitian yang lebih mendalam diperlukan untuk memastikan bagaimana sejarah itu benar-benar terjadi.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Istimewah




















Komentar