293 Hotspot Terdeteksi di Sumbar, Jejak Karhutla Capai 440,91 Hektare

- Tim

Selasa, 8 September 2026 - 18:23 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Barat. LBH Padang mencatat 293 anomali termal atau hotspot dengan estimasi jejak kebakaran mencapai 440,91 hektare berdasarkan analisis citra satelit.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Barat. LBH Padang mencatat 293 anomali termal atau hotspot dengan estimasi jejak kebakaran mencapai 440,91 hektare berdasarkan analisis citra satelit.

PADANG, bnewsmedia.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Barat kembali menjadi sorotan. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mencatat sedikitnya 293 anomali termal atau hotspot yang tersebar di wilayah Sumbar sepanjang Agustus hingga September 2026.

Dari analisis citra satelit, LBH Padang juga menemukan estimasi 440,91 hektare jejak kebakaran. Angka tersebut diperoleh melalui analisis data hotspot dan citra Landsat.

Penanggung Jawab Isu Ruang Hidup dan Gerakan Rakyat LBH Padang, Habieb Aulia Sufi, menjelaskan bahwa angka 440,91 hektare merupakan estimated fire footprint, bukan hasil pengukuran langsung di lapangan.

ADVERTISEMENT

IKLAN
DEVTECH INDONESIA
SOFTWARE DEVELOPMENT

Punya Ide
Aplikasi?

Wujudkan ide digital Anda bersama tim developer profesional.

devtech.app
BUSINESS DASHBOARD Overview
PROJECT 128
USER 8.4K
WEB APP MOBILE APP CUSTOM SYSTEM
Dari aplikasi sederhana hingga sistem skala besar.
KONSULTASI GRATIS

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, data tersebut masih membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan luasan dan kondisi sebenarnya.

“Hotspot diperlakukan sebagai indikasi anomali termal, sementara fire footprint dihitung secara terpisah dari perubahan spektral pada citra Landsat. Angka 440,91 hektare merupakan estimated fire footprint, bukan pengukuran ground truth, sehingga diperlukan verifikasi lapangan lebih lanjut,” kata Habieb dalam siaran pers, Selasa (8/9/2026).

Mayoritas Jejak Kebakaran Berada di Vegetasi Pohon

Dalam analisis tersebut, dari total estimasi 440,91 hektare jejak kebakaran, sekitar 420,44 hektare berada pada tutupan vegetasi pohon.

Sementara itu, sekitar 18,86 hektare berada pada area grassland atau lahan terbuka, 0,89 hektare shrubland, 0,09 hektare cropland, dan 0,63 hektare merupakan area terbangun.

LBH Padang menggunakan pendekatan Binary Spectral Thresholding berbasis citra Landsat 8/9. Kondisi sebelum kebakaran dipetakan menggunakan citra Januari hingga Juni 2026, kemudian dibandingkan dengan perubahan spektral pada periode Agustus hingga September 2026.

Analisis tersebut kemudian dibatasi dalam radius satu kilometer dari titik hotspot FIRMS berbasis MODIS/VIIRS untuk mengurangi kemungkinan perubahan spektral yang tidak berkaitan dengan kebakaran.

152,75 Hektare Beririsan dengan Konsesi Sawit

Temuan lain yang menjadi perhatian adalah adanya jejak kebakaran yang beririsan dengan wilayah yang memiliki subjek pengelolaan atau pemegang izin.

LBH Padang mencatat sekitar 152,75 hektare jejak kebakaran beririsan dengan konsesi sawit, sedangkan sekitar 20,36 hektare beririsan dengan PBPH atau Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan.

Dalam analisis tersebut, seluruh fire footprint juga disebut beririsan dengan kawasan hutan berdasarkan klasifikasi kawasan hutan yang digunakan dalam audit.

Pada sektor perkebunan, irisan terbesar tercatat di wilayah PT Mundam Sijunjung Sakti dengan luas sekitar 151,36 hektare. Sementara pada sektor PBPH, irisan terbesar berada di wilayah PT Sukses Jaya Wood dengan luas sekitar 20,19 hektare.

Namun, LBH Padang menegaskan bahwa data tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan perusahaan sebagai pelaku pembakaran.

Menurut LBH Padang, keberadaan jejak kebakaran di wilayah yang memiliki pemegang izin menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan pemeriksaan dan mengevaluasi kepatuhan terhadap kewajiban pencegahan serta penanggulangan kebakaran.

LBH Padang Desak Pemerintah Lebih Proaktif

LBH Padang meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada pemantauan hotspot dan pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi.

Pemeriksaan, menurut LBH Padang, dapat dimulai dari lokasi-lokasi yang telah teridentifikasi secara spasial, terutama kawasan yang memiliki pemegang izin atau subjek pengelolaan tertentu.

Direktur LBH Padang, Diki Rafiqi, mengatakan pemeriksaan terhadap wilayah konsesi bukan berarti langsung menuduh pemegang izin sebagai pelaku pembakaran.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah kewajiban pencegahan dan penanggulangan kebakaran telah dijalankan sesuai ketentuan.

“Pemerintah perlu menjelaskan apa yang dilakukan di lokasi-lokasi tersebut sebelum, ketika, dan setelah kebakaran terjadi,” ujar Diki.

Kabut Asap Mulai Berdampak ke Masyarakat

Persoalan karhutla kini tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat.

Sejumlah wilayah Sumatera Barat dilaporkan mengalami penurunan kualitas udara akibat kabut asap. Pemerintah daerah juga mulai mengambil langkah antisipasi.

Di Bukittinggi, misalnya, Pemerintah Kota menerapkan pembelajaran dari rumah bagi pelajar PAUD, TK, serta siswa kelas 1 dan 2 SD karena kondisi udara dinilai tidak sehat. Siswa yang tetap mengikuti pembelajaran tatap muka diwajibkan menggunakan masker dan lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan karhutla dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan dan pelayanan publik apabila kualitas udara terus memburuk.

LBH Padang juga menyoroti perlunya pemerintah menyediakan informasi kualitas udara yang mudah diakses masyarakat, memperkuat perlindungan terhadap kelompok rentan, serta memastikan akses layanan kesehatan bagi warga yang terdampak asap.

Lima Tuntutan LBH Padang

Atas kondisi tersebut, LBH Padang menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah, di antaranya meningkatkan perlindungan publik dari ancaman karhutla dan kabut asap, membuka informasi mengenai lokasi serta perkembangan kebakaran, mengevaluasi kepatuhan pemegang izin yang wilayahnya beririsan dengan fire footprint, melakukan penegakan hukum secara proaktif, serta memperkuat koordinasi lintas provinsi dan nasional dalam menangani sumber maupun pergerakan asap.

LBH Padang menilai penanganan karhutla perlu dilakukan secara lebih terpadu. Pemerintah Sumatera Barat diminta tetap menangani kebakaran yang terjadi di wilayahnya sekaligus memperkuat koordinasi dengan provinsi tetangga apabila asap berasal dari luar Sumbar.

Dengan temuan ratusan hotspot dan estimasi ratusan hektare jejak kebakaran tersebut, pemerintah kini dituntut tidak hanya bergerak ketika asap sudah menyelimuti permukiman, tetapi juga memastikan penyebab kebakaran, kewajiban pengelolaan kawasan, serta perlindungan masyarakat menjadi bagian utama dari penanganan karhutla di Sumatera Barat.

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

Sumber Berita: SumbarSatu.com, Langgam.id, dan keterangan LBH Padang.

Follow WhatsApp Channel bnewsmedia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kualitas Udara Sumbar Memburuk, Kabut Asap Mulai Mengancam Sumbar
Pantau Kualitas Udara Sumatera Barat Secara Real-Time
Prabowo Minta BRI-BSI Siapkan Rekening untuk Warga, Bansos Bakal Langsung Masuk?
Gaji ASN Pemda Dipindah ke Bank BUMN? Ini Kata Menkeu Purbaya
Ironi di Sumbar: 2.000 Mobil Dinas dan 3.890 Kendaraan ASN Nunggak Pajak Rp6,3 Miliar
43 Ribu Korban Keracunan MBG, Kini Pertanyaan Besarnya Bukan Lagi Soal Makanan
Rp237 Miliar dalam Kasus KPR Fiktif Karawang, Rp42,5 Miliar Sudah Disita—Siapa Lagi yang Akan Terseret?
Radius Bahaya Gunung Anak Krakatau 3 Km, Ini Wilayah yang Harus Dihindari
293 hotspot terdeteksi di Sumbar dengan estimasi 440,91 hektare jejak karhutla. LBH Padang desak pemerintah memperkuat pengawasan dan penegakan hukum.

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 18:33 WIB

Kualitas Udara Sumbar Memburuk, Kabut Asap Mulai Mengancam Sumbar

Selasa, 8 September 2026 - 18:23 WIB

293 Hotspot Terdeteksi di Sumbar, Jejak Karhutla Capai 440,91 Hektare

Selasa, 8 September 2026 - 12:54 WIB

Pantau Kualitas Udara Sumatera Barat Secara Real-Time

Selasa, 8 September 2026 - 11:00 WIB

Prabowo Minta BRI-BSI Siapkan Rekening untuk Warga, Bansos Bakal Langsung Masuk?

Selasa, 8 September 2026 - 10:57 WIB

Gaji ASN Pemda Dipindah ke Bank BUMN? Ini Kata Menkeu Purbaya

Berita Terbaru

Environment

Kualitas Udara Sumbar Memburuk, Kabut Asap Mulai Mengancam Sumbar

Selasa, 8 Sep 2026 - 18:33 WIB

Environment

Pantau Kualitas Udara Sumatera Barat Secara Real-Time

Selasa, 8 Sep 2026 - 12:54 WIB