PADANG bnewsmedia.id – Kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Barat mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan, sementara masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak buruk kualitas udara.
Data real-time IQAir yang dipantau pada Selasa (8/9/2026) menunjukkan kualitas udara di Sumatera Barat berada pada level yang perlu diwaspadai. Pada pembaruan sekitar pukul 05.04 waktu setempat, IQAir mencatat Padang sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi di Sumbar dengan AQI⁺ US 245.
Kondisi di Padang juga terlihat cukup serius. Data IQAir pada pembaruan sekitar pukul 14.00 waktu setempat mencatat AQI⁺ US 226 dengan kategori sangat tidak sehat, sementara konsentrasi PM2.5 tercatat sekitar 151,2 µg/m³. Data tersebut berasal dari stasiun milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
ADVERTISEMENT
Punya Ide
Aplikasi?
Wujudkan ide digital Anda bersama tim developer profesional.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Asap Masih Terdeteksi di Sumbar
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Barat.
Dalam monitoring citra satelit pada 7 September 2026 pukul 16.00 WIB, BMKG mendeteksi sebaran asap di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
BMKG juga menyebut kondisi atmosfer yang relatif kering akibat musim kemarau dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kabut asap tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan.
13.629 Masker Dibagikan di Padang
Pemerintah Kota Padang mulai mengambil langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang bersama Komunitas Siaga Bencana (KSB) membagikan 13.629 masker kepada masyarakat pada Senin (7/9/2026).
Pembagian masker dilakukan sebagai langkah untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan, termasuk risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Sebelumnya, BPBD Padang juga dilaporkan membagikan sedikitnya 11 ribu masker kepada masyarakat yang beraktivitas di sejumlah titik.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi kualitas udara yang semakin buruk akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Padang dan sekitarnya.
Kabut Asap Terlihat di Padang dan Padang Pariaman
Kabut asap juga terlihat cukup pekat di sejumlah wilayah Sumatera Barat.
ANTARA melaporkan kabut asap menyelimuti kawasan perbukitan di Padang pada Minggu (6/9/2026). Dinas Lingkungan Hidup Sumbar mencatat 19 titik panas serta adanya dampak karhutla dari provinsi tetangga yang turut menyebabkan kondisi kabut asap di Padang dan sekitarnya semakin pekat.
Masyarakat kemudian diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus bepergian.
Kondisi serupa juga dirasakan di Kabupaten Padang Pariaman. Pemerintah daerah menyarankan masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan karena kualitas udara di wilayah tersebut berada dalam kategori tidak sehat akibat kabut asap.
Sejumlah Daerah Mulai Waspada
Penurunan kualitas udara juga terjadi di Padang Panjang.
Pemerintah Kota Padang Panjang melaporkan kualitas udara berada pada rentang 67–93 AQI/ISPU, dengan kategori sedang hingga kurang sehat. Pemerintah setempat meminta masyarakat, khususnya kelompok rentan, meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan. Keluhan seperti batuk, tenggorokan tidak nyaman, mata perih atau berair, sakit kepala hingga sesak napas perlu menjadi perhatian.
Apabila keluhan semakin berat, masyarakat dianjurkan mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Warga Diminta Tidak Panik, tetapi Tetap Waspada
Kondisi kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah Sumbar tidak serta-merta berarti seluruh wilayah provinsi mengalami tingkat polusi yang sama.
Data kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu tergantung arah angin, kondisi atmosfer, sumber asap, serta hujan yang turun di suatu wilayah.
Karena itu, masyarakat diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan kondisi cuaca dari sumber resmi. Untuk wilayah yang mengalami kualitas udara buruk, penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan dapat menjadi langkah pencegahan.
BMKG sendiri masih memprakirakan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang di Sumatera Barat pada 8–10 September 2026 dan kembali pada periode 11–14 September. Namun, kondisi kering di sejumlah wilayah tetap perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan kerentanan terhadap karhutla.
Dengan kondisi kualitas udara yang masih berfluktuasi dan asap yang terpantau di Sumbar, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan kondisi lingkungan. Pemerintah daerah juga perlu terus memastikan informasi kualitas udara dapat diakses masyarakat secara cepat dan mudah.
Sumber: IQAir, BMKG, ANTARA Sumbar, dan RRI.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi
Sumber Berita: iqair.com/id, bmkg.go.id, anataranews.com,









Komentar