Di Balik Tangis Keysa, Ada Luka yang Tak Bisa Diukur dengan Bantuan

- Tim

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tabanan, Bali bnewsmedia.id – Dunia media sosial mendadak hening ketika sebuah video memperlihatkan seorang gadis kecil menangis histeris di samping jenazah ayahnya. Suaranya memanggil sang ayah yang tak lagi bisa menjawab membuat jutaan orang tersentuh. Dalam hitungan jam, simpati mengalir. Bantuan datang dari berbagai penjuru. Banyak yang ingin memastikan masa depan anak itu tetap terjaga.

Anak itu tidak tahu apa itu residivis. Ia tidak mengerti apa arti pencurian, proses hukum, atau amuk massa. Yang ia tahu hanyalah sosok yang selama ini dipanggil “Ayah” kini telah tiada.

Belakangan, fakta demi fakta mulai terungkap.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pria berinisial KD, ayah dari gadis kecil tersebut, diketahui pernah menjalani hukuman dalam kasus pencurian pada 2018. Kepolisian juga mengungkap bahwa sepeda motor yang digunakannya diduga merupakan hasil tindak pidana pencurian. Pada malam nahas itu, KD diduga tertangkap saat hendak membawa kabur ayam aduan milik warga yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Di sisi lain, warga mengaku sudah lama dihantui aksi pencurian ayam yang berulang. Rasa jengkel dan kecewa disebut telah menumpuk selama bertahun-tahun. Saat pelaku diduga tertangkap basah, emosi pun meledak. Dugaan pencurian yang semestinya diselesaikan melalui proses hukum berubah menjadi aksi pengeroyokan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

Tak lama kemudian, video tangisan sang anak menyebar ke seluruh Indonesia.

Publik pun terbelah.

Ada yang hanya melihat seorang ayah yang tewas mengenaskan. Ada pula yang melihat seorang residivis yang kembali diduga melakukan tindak pidana. Namun, di tengah perdebatan itu, satu sosok yang nyaris tak pernah bersalah justru berdiri di pusat perhatian: seorang anak kecil yang kehilangan ayahnya.

Kesalahan orang tua bukanlah dosa yang diwariskan kepada anak. Karena itu, simpati masyarakat yang mengalir kepada keluarga, terutama kepada anak-anak yang ditinggalkan, merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan yang patut dihargai.

Namun, simpati juga tidak boleh mengaburkan fakta.

Riwayat hukum KD merupakan bagian dari fakta yang diungkap penyidik. Demikian pula keresahan warga yang telah lama mengaku kehilangan ayam. Kedua hal itu memberi konteks mengapa peristiwa tersebut bisa terjadi. Akan tetapi, konteks bukanlah pembenaran.

Dalam negara hukum, seseorang yang diduga mencuri harus diproses melalui mekanisme hukum. Sebaliknya, siapa pun yang melakukan kekerasan hingga menyebabkan kematian juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Keadilan tidak dapat dibangun di atas kemarahan, dan hukum tidak boleh kalah oleh amuk massa.

Tragedi di Tabanan ini menyisakan pelajaran yang pahit.

Jika dugaan pencurian benar terjadi, maka ada korban yang kehilangan harta benda. Jika pengeroyokan terbukti menyebabkan kematian, maka ada keluarga yang kehilangan seorang ayah. Dan di antara semua itu, ada seorang anak yang mungkin akan tumbuh dengan kenangan terakhir berupa tangisan di samping jenazah orang yang paling ia cintai.

Bantuan materi yang kini berdatangan tentu dapat meringankan beban hidup keluarga. Namun, tidak ada bantuan apa pun yang mampu mengembalikan masa kecil yang telah berubah dalam semalam.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketika kejahatan dibalas dengan kekerasan, yang lahir bukanlah kemenangan. Yang tersisa hanyalah duka, penyesalan, dan generasi yang harus tumbuh memikul akibat dari keputusan orang-orang dewasa.

Pada akhirnya, tragedi ini bukan sekadar tentang seekor ayam yang diduga dicuri atau seorang pria yang tewas di tangan massa. Ini adalah cermin tentang rapuhnya kepercayaan terhadap hukum, mudahnya emosi mengalahkan akal sehat, dan seorang anak yang harus membayar harga paling mahal atas sebuah peristiwa yang tidak pernah ia pilih.

Facebook Comments Box

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi

Sumber Berita : Istimewah

Follow WhatsApp Channel bnewsmedia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tata Kelola BGN Kembali Jadi Sorotan, Pengamat Desak Transparansi Program MBG
Indonesia Pesta Gol 5-1 atas Kamboja di ASEAN Cup, Garuda Tampil Dominan
Evaluasi Usai, One Way Berakhir: Aspirasi Warga Jadi Pertimbangan Utama
Dari Tanam Mangrove hingga Bongkar Dugaan Limbah, Aksi AMPHIBI di Deli Serdang Jadi Sorotan
Darurat Lingkungan: Tiga Desa di Percut Sei Tuan Terdampak Busa Diduga Limbah Kimia, Sawah dan Mangrove Terancam
Rika Maria: Keteladanan Guru Menjadi Kunci Membangun Jembatan Hati di Dunia Pendidikan
Bangkit dari Kerusakan, AMPHIBI Kembali Hijaukan Pesisir Percut dengan 75.000 Mangrove
Polres Padang Pariaman Awasi Penyaluran Solar Bersubsidi di Tiga SPBU
Untuk menjaga akurasi dan etika jurnalistik, hindari menyatakan seseorang sebagai "maling" atau menyebut motif tertentu sebagai fakta sebelum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Gunakan frasa seperti "diduga mencuri", "menurut kepolisian", atau "berdasarkan hasil penyelidikan" saat merujuk pada perkara pidana yang masih dalam proses.

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 02:10 WIB

Di Balik Tangis Keysa, Ada Luka yang Tak Bisa Diukur dengan Bantuan

Senin, 27 Juli 2026 - 16:27 WIB

Tata Kelola BGN Kembali Jadi Sorotan, Pengamat Desak Transparansi Program MBG

Senin, 27 Juli 2026 - 15:57 WIB

Indonesia Pesta Gol 5-1 atas Kamboja di ASEAN Cup, Garuda Tampil Dominan

Selasa, 21 Juli 2026 - 05:44 WIB

Evaluasi Usai, One Way Berakhir: Aspirasi Warga Jadi Pertimbangan Utama

Senin, 20 Juli 2026 - 11:52 WIB

Dari Tanam Mangrove hingga Bongkar Dugaan Limbah, Aksi AMPHIBI di Deli Serdang Jadi Sorotan

Berita Terbaru