bnewsmedia.idĀ Batusangkar – Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen (Purn) Doni Monardo meninggal dunia pada Minggu (3/12/2023). Ia menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 17.35 WIB.
Saat sakit, beberapa pejabat negara sempat menjenguk Doni. Salah satunya adalah Presiden RI Joko Widodo. Saat itu, Presiden Jokowi sempat melihat kondisi Doni yang terbaring di tempat tidur perawatan dan berbincang bersama keluarga.
Selain dikenal sebagai mantan Kepala BNPB, ia juga sempat menjadi Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Saat itu ia ikut melakukan monitor perkembangan kasus COVID di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Punya Ide
Aplikasi?
Wujudkan ide digital Anda bersama tim developer profesional.
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikutip dari wikipedia.org Doni Monardo lahir diĀ Cimahi,Ā Jawa Barat, 10 Mei 1963. Doni berdarah asliĀ Minang. Ayahnya, Letkol CPM Nasrul Saad berasal dariĀ Lintau,Ā Kabupaten Tanah DatarĀ dan sang ibu, Roeslina, dariĀ Nagari Sungai Tarab, Tanah Datar. Karena ayahnya yang seorang prajurit, maka Doni kecil pun ikut berpindah-pindah.
Lahir di Cimahi, Doni lalu menghabiskan masa kanak-kanak diĀ Aceh. Setelah itu, ia baru tinggal diĀ PadangĀ hingga lulusĀ SMA Negeri 1 Padang pada 1981.Ā Mengikuti jejak ayahnya, ia masukĀ Akademi MiliterĀ setelah lulus SMA. Tahun 1985 ia mengawali masa kedinasannya sebagai seorang prajurit.
Selama 36 tahun Doni berkarier menjalankan penugasan. Ia pernah berdinas di Banten, Bali, Aceh, Jakarta, Sulawesi Selatan, Bogor, Maluku, dan Jawa Barat. Penugasan luar negerinya juga termasuk menonjol.
KARIR
Penempatan pertama langsung pada Komando Pasukan Khusus atauĀ KopassusĀ tahun 1986 sampai dengan 1998. Selama di Kopassus dia pernah ditugaskan keĀ Timor Timur,Ā AcehĀ dan daerah lainnya. Pada tahun 1999 hingga 2001, lelaki yang suka kegiatan menembak dan beladiri ini ditugaskan pada Batalyon Raider diĀ Bali. Kemudian ditarik kembali diĀ PaspampresĀ hingga tahun 2004, lalu mengikuti pelatihanĀ counter terrorismĀ yang dilaksanakan diĀ Korea Selatan.
Pada tahun 2005 sampai dengan 2006 Doni ditugaskan di Aceh. Setahun di sana, dia kembali ditarik ke JakartaĀ bergabung dengan Paspampres. Pada tahun 2006 dipindahkan keĀ Makassar,Ā Sulawesi Selatan, di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, atau yang lebih dikenal denganĀ Kostrad. Salah satu program yang hingga kini dikenang masyarakat Makassar adalah penghijauan beberapa kawasan tandus di Sulawesi Selatan termasuk di sekitarĀ Bandara Hasanuddin.
Setelah di Makassar, Doni di promosikan menjadi Dan Grup A Paspampres. Selama bertugas mengawal orang nomor satu di Republik IndonesiaĀ ia sudah mengikuti kunjunganĀ Presiden IndonesiaĀ ke 27 negara di dunia. Pada tahun 2010, Doni kemudian diberi kepercayaan menjadi Danrem 061 Surya Kencana Bogor. Selang beberapa bulan menjadi Danrem di Bogor, Doni diangkat menjadi Wadanjen Kopassus. Salah satu tugas yang melambungkan namanya adalah ketika ditugaskan PresidenĀ Susilo Bambang YudhoyonoĀ menjadi Wakil Komando Satuan Tugas untuk pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak oleh perompakĀ Somalia. Atas keberhasilan itu pangkat Doni dinaikkan setingkat menjadi Brigadir Jenderal.
Bulan April 2012 Doni mengikuti pendidikan PPSA XVIII di Lemhannas. Baru empat bulan di Lemhannas Doni dipromosikan menjadi Danpaspampres. (**bn)







Komentar