Oleh: Rahmad
Hujan turun deras mengguyur kawasan Pasar Kuliner Kota Padangpanjang, Sabtu (10/5) malam. Air mulai menggenang di sisi jalan. Di sela hiruk-pikuk pedagang kaki lima yang masih melayani pembeli, saluran air kembali tersumbat oleh tumpukan sampah plastik dan sisa makanan.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana malam itu sekitar pukul 19.35 WIB, sosok Wakil Walikota Padangpanjang, Allex Saputra, terlihat berdiri di pinggir drainase. Tidak ada sepatu bot, tidak pula jas hujan lengkap layaknya petugas lapangan.
Ia hanya mengenakan kaus putih yang mulai kusut diguyur hujan, sandal jepit, dan sebuah tas hitam yang masih tersandang di pundaknya.
Dengan sepotong kayu di tangan, terlihat Wakil Walikota Padangpanjang Allex mencoba mengorek sampah yang menyumbat saluran air sebelum petugas datang ke lokasi. Sesekali ia menunduk, memindahkan plastik dan sampah yang tersangkut di mulut drainase.
Malam itu, seorang Wakil Walikota memilih berdiri di genangan air, bukan di balik meja kerja. Pedagang memahami situasi malam itu, ini bukan pencitraan, tetapi ia datang saat hujan turun.
Fenomena saluran tersumbat di kawasan Pasar Kuliner memang bukan persoalan baru. Drainase di kawasan tersebut kerap dipenuhi sampah yang diduga berasal dari aktivitas pedagang kaki lima yang berjualan di atas trotoar. Saat hujan turun, air meluap karena saluran tidak mampu menampung aliran.
“Ya, setiap hujan kawasan pasar kuliner saluran airnya kerap tersumbat. Laporan warga masuk. Saya bersama kawan-kawan dinas terkait turun ke lapangan untuk menyikapi persoalan ini,” ujar Allex di tengah hujan.
Menurutnya, penertiban sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan pemerintah daerah. Hanya saja, sebagian pedagang masih menolak dipindahkan dari lokasi yang dianggap mengganggu fungsi trotoar dan drainase.
Di balik tenda-tenda pedagang, malam itu terdengar suara ember, sapu, dan percikan air. Beberapa pedagang ikut membantu membersihkan sampah yang menumpuk di saluran. Namun, ada satu hal yang justru mengundang perhatian mereka.
Tas hitam yang tetap melekat di punggung sang wakil wali kota itu seakan akan tak mau di lepas. Rasa ingin tahu yang menekan, Seorang pedagang akhirnya memberanikan diri bertanya di sela-sela aktivitas pembersihan.
“Pak Wawa, kenapa masih menyandang tas?” ujar salah seorang pedang.
Pertanyaan sederhana itu memancing senyum tipis di wajah Allex.
Dengan suara agak serak karena kehujanan, ia menjawab santai bahwa dirinya baru saja selesai berolahraga dan kebetulan dirinya mendapat laporan adanya drainase tersumbat.
“Mendengar ada saluran air yang tersumbat, saya langsung ke lokasi,” katanya.
Di sela aktivitas membersihkan saluran, telepon genggam di tangannya nyaris tak berhenti berdering. Ia tampak menghubungi sejumlah pejabat dan petugas, mulai dari lurah, camat, hingga dinas terkait agar segera turun membantu penanganan.
Malam itu, hujan memang membasahi Kota Padangpanjang. Namun di kawasan pasar kuliner, ada pemandangan yang diam-diam menyentuh warga.
seorang pemimpin yang datang tanpa protokoler panjang, membawa tas olahraga di pundak, lalu ikut mengorek sampah bersama petugas dan pedagang demi mengembalikan aliran air agar kembali normal.
“Ya, pengalaman ini tentunya dapat kita simpulkan, menjaga kebersihan bukanlah tugas petugas semata. Namun, menjaga kebersihan adalah tugas kita bersama. Mari kita tingkatkan kesadaran akan hidup sehat dan menjaga lingkungan tetap bersih,” ujat Allex Saputra sebelum meninggalkan lokasi yang sudah kembali normal. (**)








