ASAL MUASAL KATA MINANGKABAU

- Tim

Rabu, 6 Oktober 2021 - 17:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanah Datar,Menurut sejarah kata Minangkabau berawal dari sebuah peristiwa pertarungan dua ekor kerbau.

Peristiwa sejarah pertarungan dua ekor kerbau ini banyak diabadikan kedalam sebuah karya tuklis dan buku salah satunya buku 88 Cerita Terbaik Asal-Usul Nama Daerah karya Marina Asril Reza, yang mengkisahkan bahwa dahulu terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Pagaruyung. Raja Pagaruyung merupakan sosok pemimpin yang arif dan adil.

Keamanan kerajaan itu terusik oleh khabar bahwa Kerajaan Majapahit hendak menyerang dan menginvasi daerah itu,bahkan pasukan Majapahit telah sampai di perbatasan.

ADVERTISEMENT

ads. Ukuran gambar 480px x 600px

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mendengar kabar tersebut, Raja Pagaruyung pun mengumpulkan para hulubalang dan panglima perang untuk berunding. Pada pertemuan tersebut, Raja bermaksud untuk menghadapi pasukan Majapahit yang akan datang.

Namun, penasihat raja mengatakan bahwa mereka tidak dapat melakukan penyerangan yang akan menimbulkan kesengsaraan rakyat. Bagaimana pun, peperangan akan merugikan rakyatnya sendiri.

Ia juga meminta agar raja melakukan perundingan terhadap pasukan Majapahit untuk meninggalkan wilayah mereka. Jika dengan berunding tidak dapat menyelesaikan masalah, maka sang penasihat meminta untuk menggelar adu kerbau saja.

Raja setuju dengan pendapat panglima perang. Lalu mereka mulai menyusun rencana. Raja memerintahkan putrinya, Datuk Tantejo Gerhano, untuk pergi ke perbatasan. Datuk yang mempunyai tata krama yang tinggi serta berhati lembut. Sebelum pergi, ia mendandani gadis-gadis dan dayang-dayang yang akan menemaninya.

Pasukan Kerajaan Majapahit pun merasa senang sekaligus heran. Mereka mengira akan disambut oleh pasukan Kerajaan Pagaruyung, ternyata justru disambut oleh gadis-gadis cantik yang ramah serta disuguhi makanan enak.

Setelah menemui raja, akhirnya mereka setuju bahwa peperangan akan diganti dengan adu kerbau. Mereka pun menyiapkan seekor kerbau yang besar dan kuat untuk diadu dengan kerbau milik Kerajaan Pagaruyung.

Kerajaan Pagaruyung justru memilih seekor anak kerbau yang masih menyusu dengan induknya. Anak kerbau itu dipisahkan dari induknya itu selama tiga hari sehingga anak kerbau itu tidak bisa menyusu dengan induknya dan menjadi haus. Lalu, di mulut anak kerbau tersebut dipasang sebuah besi yang berbentuk kerucut dan sangat runcing.

Hari yang ditentukan pun tiba. Kerbau-kerbau aduan dibawa ke gelanggang. Kerajaan Majapahit memiliki kerbau aduan yang besar dan kuat.

Kerbau aduan Kerajaan Majapahit terlihat beringas menyerang lawannya. Sementara itu, anak kerbau milik Kerajaan Pagaruyung segera mengejar kerbau besar itu untuk menyusu. Ia mengira bahwa kerbau besar itu adalah induknya.

Moncong kecilnya berusaha menggapai perut kerbau lawannya, sehingga perut kerbau Kerajaan Majapahit terluka. Karena luka yang semakin banyak, kerbau Kerajaan Majapahit pun tersungkur dan mati.

Rakyat pun bersorak sembari meneriakkan kata “Manang kabau!”. Pasukan Kerajaan Majapahit pun diizinkan untuk kembali ke kerajaannya dengan damai tanpa peperangan.

Lalu berita kemenangan kerbau Kerajaan Pagaruyung menjadi buah bibir di seluruh negeri. Manang kabau adalah bahasa penduduk setempat yang berarti menang kerbau. Akhirnya, daerah tersebut dikenal dengan sebutan Manang Kabau yang lama-kelamaan menjadi Minangkabau.

Patung Kerbau sebagai simbol di Minang, didirikan di Halaman Museum Istana Basa Pagaruyung, posisinya sebelah kanan depan Istana.(AN/LAP)

Sumber : Marina Asril/buku 88 Cerita Terbaik Asal Usul Nama Daerah.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel bnewsmedia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Darurat Lingkungan: Tiga Desa di Percut Sei Tuan Terdampak Busa Diduga Limbah Kimia, Sawah dan Mangrove Terancam
Rika Maria: Keteladanan Guru Menjadi Kunci Membangun Jembatan Hati di Dunia Pendidikan
Rika Maria: Pendidikan Tidak Cukup Hanya Mencerdaskan Akal, Tetapi Juga Menumbuhkan Hati
Bangkit dari Kerusakan, AMPHIBI Kembali Hijaukan Pesisir Percut dengan 75.000 Mangrove
Polres Padang Pariaman Awasi Penyaluran Solar Bersubsidi di Tiga SPBU
Listrik Padam Massal Landa Sumatra, PLN Lakukan Pemulihan Bertahap
Di Tengah Duka Luapan Batang Tompo, Peternak Ayam Lintau Hadir Bawa Harapan untuk Warga Taluak
Dari Luka yang Sama, Muaro Ambius Bantu Korban Banjir Taluk

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 02:50 WIB

Darurat Lingkungan: Tiga Desa di Percut Sei Tuan Terdampak Busa Diduga Limbah Kimia, Sawah dan Mangrove Terancam

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:06 WIB

Rika Maria: Keteladanan Guru Menjadi Kunci Membangun Jembatan Hati di Dunia Pendidikan

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:53 WIB

Rika Maria: Pendidikan Tidak Cukup Hanya Mencerdaskan Akal, Tetapi Juga Menumbuhkan Hati

Senin, 15 Juni 2026 - 18:20 WIB

Bangkit dari Kerusakan, AMPHIBI Kembali Hijaukan Pesisir Percut dengan 75.000 Mangrove

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:19 WIB

Polres Padang Pariaman Awasi Penyaluran Solar Bersubsidi di Tiga SPBU

Berita Terbaru